BULETIN EDISI : MINGGU KE-13 TAHUN 2025 23 – 29 MARET 2025

Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR)
Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) adalah sebuah sistem yang berfungsi dalam mendeteksi adanya ancaman indikasi KLB penyakit menular yang dilaporkan secara mingguan dengan berbasis aplikasi website, yang dapat menampilkan alert atau sinyal peringatan dini adanya peningkatan kasus penyakit. Alert atau sinyal peringatan dini yang muncul pada sistem merupakan peringatan dini yang mengharuskan petugas untuk melakukan respon cepat agar tidak terjadi KLB.
DATA SKDR PENYAKIT POTENSIAL WABAH DUA MINGGU TERAKHIR
Sumber Data : Website SKDR Unit Pelapor Puskesmas
Penyakit yang mengalami peningkatan pada minggu ke-13 tahun 2025 :
- Suspek Dengue.
- Pnemonia
- Suspek Demam Typoid
CAPAIAN INDIKATOR KINERJA
KELENGKAPAN LAPORAN MINGGUAN SKDR
Penyakit |
M-12 2025 |
M-13 2025 |
Kelengkapan Laporan (%) |
100 |
|
|
1 |
Diare Akut |
49 |
33 |
Ketepatan Laporan (%) |
100 |
|
2 |
Malaria Konfirmasi |
0 |
0 |
Jumlah Alert |
4 |
|
3 |
Suspek Dengue |
0 |
1 |
Jumlah Direspon |
4 |
|
4 |
Pnemonia |
2 |
3 |
Jumlah Alert Menjadi KLB |
0 |
|
5 |
Diare Berdarah |
0 |
0 |
|
||
6 |
Suspek Demam Tifoid |
0 |
1 |
|||
7 |
Sindrom Jaundice Akut |
0 |
0 |
|||
8 |
Suspek Chikungunya |
0 |
0 |
|||
9 |
Suspek Flu Burung Pada Manusia |
0 |
0 |
|||
10 |
Suspek Campak |
0 |
0 |
|||
11 |
Kasus Observasi Difteri |
0 |
0 |
|||
12 |
Suspek Pertusis |
0 |
0 |
|||
13 |
Acute Flacid Paralysis (AFP) |
0 |
0 |
|||
14 |
Gigitan Hewan Penular Rabies |
5 |
3 |
|||
15 |
Suspek Antraks |
0 |
0 |
|||
16 |
Suspek Leptospirosis |
0 |
0 |
|||
17 |
Suspek Kolera |
0 |
0 |
|||
18 |
Suspek Meningitis/Ensefalitis |
0 |
0 |
|||
19 |
Suspek Tetanus Neonatorum |
0 |
0 |
|||
20 |
Suspek Tetanus |
0 |
0 |
|||
21 |
ILI (Penyakit Serupa Influenza) |
3 |
3 |
|||
22 |
Suspek HFMD |
1 |
0 |
|||
23 |
ISPA |
243 |
149 |
|||
24 |
COVID-19 Konfirmasi |
0 |
0 |
|||
Total Kunjungan |
3071 |
2095 |
Sumber Data : Website SKDR Unit Pelapor Puskesmas dan Rumah Sakit
Berdasarkan Grafik diatas pada minggu ke-13, kelengkapan laporan pada SKDR sebesar 100 % yang berasal dari 18 unit pelapor di Kota Gorontalo.
KETEPATAN LAPORAN MINGGUAN SKDR
Sumber Data : Website SKDR Unit Pelapor
Puskesmas dan Rumah Sakit
Berdasarkan Grafik diatas pada minggu ke-13, ketepatan laporan pada SKDR sebesar 100 % yang berasal dari 18 unit pelapor di Kota Gorontalo.
GAMBARAN ALERT YANG MUNCUL PADA WEB SKDR
Sumber Data : Website SKDR Unit Pelapor Puskesmas dan Rumah Sakit
Berdasarkan hasil screen shoot website SKDR diatas, menunjukkan bahwa jumlah alert yang terjadi pada minggu ke-13 tahun 2025 sebanyak 10 alert yang tersebar di 7 unit pelapor, semua alert telah diverifikasi kurang dari 24 jam dan seluruh alert benar, hasil verifikasi ditemukan kasus.
CEK LIST UNIT PELAPOR TERHADAP KEMUNCULAN ALERT PERIODE PELAPORAN MINGGU KE-13
No |
Unit Pelapor |
Target (Alert) |
Pencapaian (Alert) |
Keterangan |
1 |
PKM
Kota Barat |
1 |
0 |
Tidak Capai |
2 |
PKM
Kota Selatan |
1 |
1 |
Capai |
3 |
PKM
Kota Tengah |
1 |
0 |
Tidak Capai |
4 |
PKM
Kota Timur |
1 |
0 |
Tidak
Capai |
5 |
PKM
Kota Utara |
1 |
0 |
Tidak
Capai |
6 |
PKM
Dumbo Raya |
1 |
1 |
Capai |
7 |
PKM
Dungingi |
1 |
1 |
Capai |
8 |
PKM
Hulonthalangi |
1 |
0 |
Tidak
Capai |
9 |
PKM
Pilolodaa |
1 |
0 |
Tidak
Capai |
10 |
PKM
Sipatana |
1 |
0 |
Tidak
Capai |
11 |
RS
Islam |
1 |
0 |
Tidak
Capai |
12 |
RSIA
Siti Khadijah |
1 |
0 |
Tidak
Capai |
13 |
RSUD
Otanaha |
1 |
1 |
Capai |
14 |
RSUD Prof.DR.H Aloei Saboe |
1 |
1 |
Capai |
15 |
RS
Bioklinik |
1 |
0 |
Tidak
Capai |
16 |
RS
Bunda |
1 |
1 |
Capai |
17 |
RS
Multazam |
1 |
1 |
Capai |
18 |
RS
Rumkitban |
1 |
0 |
Tidak
Capai |
Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) |
50% (9 unit pelapor) |
38,88 % (7 unit pelapor) |
Tidak
Capai |
LAPORAN SURVEILANS BERBASIS INDIKATOR (IBS)
1. Suspek
Dengue
a. Trend Kasus Dibandingkan Tahun Sebelumnya
Sumber Data : Website SKDR Unit Pelapor
Puskesmas
Berdasarkan grafik trend kasus Suspek Dengue di Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo pada minggu ke-13 tahun 2025 terlihat mengalami peningkatan dari minggu sebelumnya, yaitu 0 kasus pada minggu ke-12 tahun 2025 meningkat menjadi 1 kasus pada minggu ke-13 tahun 2025. Apabila dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun sebelumnya, kasus Sespek Dengue pada minggu ke-13 tahun 2025 tampak lebih rendah.
Faktor penyebab timbulnya kasus suspek dengue antara lain adanya perubahan iklim, terdapat genangan air, dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat.
b. Distribusi Kasus Berdasarkan Unit Pelapor
Sumber Data : Website SKDR Unit Pelapor
Puskesmas
Berdasarkan grafik diatas, menunjukkan bahwa kasus Suspek Dengue pada minggu ke-13 tahun 2025 terjadi di wilayah kerja Puskesmas Kota Selatan Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo.
2. Pnemonia.
a. Trend Kasus Dibandingkan Tahun Sebelumnya
Berdasarkan grafik trend kasus Pnemonia di Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo pada minggu ke-13 tahun 2025 terlihat mengalami peningkatan dari minggu sebelumnya, yaitu 2 kasus pada minggu ke-12 tahun 2025 meningkat menjadi 3 kasus pada minggu ke-13 tahun 2025. Apabila dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun sebelumnya, kasus Pnemonia pada minggu ke-13 tahun 2025 tampak lebih rendah.
Sumber Data : Website SKDR Unit Pelapor Puskesmas
Berdasarkan grafik diatas, menunjukkan bahwa kasus Pnemonia pada minggu ke-13 tahun 2025 terjadi di wilayah kerja Puskesmas Dungingi Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo.
3. Suspek
Demam Typoid
a. Trend Kasus Dibandingkan Tahun Sebelumnya
Sumber Data : Website SKDR Unit Pelapor Puskesmas
Berdasarkan grafik trend Suspek Demam Typoid di Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo pada minggu ke-13 tahun 2025 terlihat mengalami peningkatan dari minggu sebelumnya, yaitu 0 kasus pada minggu ke-12 tahun 2025 meningkat menjadi 1 kasus pada minggu ke-13 tahun 2025. Apabila dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun sebelumnya, Suspek Demam Typoid pada minggu ke-13 tahun 2025 tampak lebih rendah.
Faktor penyebab Suspek Demam Typoid yaitu kondisi sanitasi lingkungan yang kurang memadai.
b. Distribusi Kasus Berdasarkan Unit Pelapor
Sumber Data : Website SKDR Unit Pelapor Puskesmas
Berdasarkan grafik diatas, menunjukkan bahwa Suspek Demam Typoid pada minggu ke-13 tahun 2025 terjadi di wilayah kerja Puskesmas Dungingi Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo.
LAPORAN SURVEILANS BERBASIS KEJADIAN (EBS)
1. STATUS RUMOR DI EBS SKDR
Laporan surveilans berbasis kejadian (EBS) dilaporkan setiap hari oleh unit pelapor ketika suatu kejadian ditemukan. Dari minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-13 tahun 2025 laporan EBS berjumlah 70 laporan yang berasal dari Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota Gorontalo. Dihimbau untuk seluruh unit pelapor agar dapat melakukan pelaporan EBS SKDR apabila terdapat kasus potensial KLB dalam kurun waktu < 24 jam.
Sumber Data : Website SKDR Unit Pelapor
Puskesmas dan Rumah Sakit.
2. PENYAKIT DILAPORKAN PADA EBS SKDR
Pada grafik dibawah, menunjukkan dari minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-13 tahun 2025 terdapat 15 penyakit yang dilaporkan pada EBS SKDR. Adapun penyakit yang dilaporkan yaitu Dengue (43 kasus), Suspek Mumps (37 kasus), Suspek Varicella (9 kasus), Malaria (8 kasus), Keracunan Makanan (6 kasus), Suspek Leptospirosis (6 kasus), Suspek Campak (5 kasus), GHPR (5 kasus), Suspek HFMD (3 kasus), Hepatitis (2 kasus), Mfox (1 kasus), Acute Flaccid Paralysis (AFP) (1 kasus), Tetanus (1 kasus), Diare Berdarah/Disentri (1 kasus), dan penyakit lain-lain (1 kasus).
Sumber Data : Website SKDR Unit Pelapor
Puskesmas dan Rumah Sakit
KESIMPULAN
- Pada minggu ke-13 secara Kota Gorontalo, indikator kelengkapan dan ketepatan laporan, respon alert dan respon alert kurang dari 24 jam sudah mencapai target.
- Terdapat 3 penyakit yang mengalami peningkatan pada minggu ke-13 berdasarkan laporan puskesmas yaitu Suspek Dengue, Pnemonia dan Suspek Demam Typoid.
- Berdasarkan laporan EBS SKDR dari minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-13 terdapat penyakit terbanyak yang dilaporkan yaitu : Dengue dan Suspek Mumps.
REKOMENDASI
1. Lakukan kajian epidemiologi secara terus menerus secara sistematis terhadap perkembangan penyakit berpotensi KLB yang ada diwilayah kerja Puskesmas, sehingga dapat mengidentifikasi adanya ancaman KLB di wilayah kerja Puskesmas.
2. Diharapka kepada petugas surveilans untuk terus meningkatkan surveilans dan kewaspadaan dini penyakit potensial KLB/wabah dengan melakukan analisa/kajian trend kasus diwilayah masing-masing.
3. Surveilans ketat dengan memperkuat monitoring dan evaluasi terkait pencatatan dan pelaporan pada kasus-kasus yang mengalami peningkatan dan pada situasi khusus (KLB) secara realtime sampai kondisi kembali normal dan KLB dinyatakan berakhir.
4. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
(Meilyn B Maaruf/Tim Kerja Surveilans & Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Gorontalo)
Berita Terkait


